「Malah tidak mau Anugerah?」
oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) Alliance Bible Seminary H.K.
(Luk. 18:1-8 [ITB])
1 Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
2 Kata-Nya: 「Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. 3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: 『Belalah hakku terhadap lawanku.』 4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: 『Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, 5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.』」
6 Kata Tuhan: 「Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! 7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? 8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?」
Dalam perikop Alkitab dua hari terakhir ini, kita membahas apa yang dimaksud dengan kedatangan Kerajaan Surga dan bagaimana mengetahui penyataan diri Anak Manusia. Ini adalah yang diharapkan bertahun-tahun untuk ditemui oleh orang Yahudi setelah pembuangan ke tawanan; dan merupakan doa orang Israel yang terpencar selama berabad-abad. Karena itu, seluruh bangsa itu berada dalam visi ini, berharap bahwa suatu hari Tuhan akan datang oleh diri-Nya sendiri menyelamatkan, memimpin mereka keluar dari dilema kesulitan mereka. Tidak diragukan lagi harapan mereka ini dapat dimengerti, tetapi kuncinya adalah bahwa iman mereka sebagai umat Allah justru berbeda. Dengan kata lain, apakah umat Allah siap menyambut kedatangan Kerajaan Surga dan Anak Manusia menyatakan diri, atau apakah umat Allah hanya tahu menuntut dan apa yang mereka lakukan berbeda jauh dengan Kerajaan Surga yang mereka harapkan?
Perikop ini tampaknya mengajarkan kita untuk berdoa, jangan tawar hati. Ya, kita harus banyak berdoa dengan hati yang tidak malas, tidak berkecil hati dan berdoa di hadapan Tuhan. Tetapi sesuai perumpamaan berikutnya, maka fokus dari perikop ini adalah meminta kita memperhatikan dengan teliti.
Pertama-tama, seorang janda pergi mencari hakim untuk membela haknya. Bagi orang-orang percaya abad pertama, ini mungkin bukan deskripsi yang asing. Dalam literatur tradisi Yahudi antar dua perjanjian, Kebijaksanaan Ben Shiraz, mencatat pernyataan serupa ─ TUHAN akan mendengarkan keluhan janda dan menanggapi kepahitan mereka yang terpinggirkan (pasal 35). Kita dapat mengatakan bahwa perumpamaan ini adalah mengajar orang untuk bertahan percaya bahwa Tuhan akan mendengarkan doa-doa kita. Lalu, dalam perikop ini kita menemukan pembicaraan yang sangat istimewa, yaitu pengakuan diri hakim ini dan sebutan dari Yesus kepadanya — hakim yang lalim.
Apakah kita masih ingat perumpamaan bendahara yang tidak benar dalam pasal 16? Di sana juga mencatat pengakuan dan isi hati dari bendahara yang tidak benar, mirip dengan kata-kata dari dalam hati hakim yang lalim. Ditambah lagi kedua perumpamaan ini meminjam karakter orang yang tidak benar untuk menunjukkan bahwa terdapat hikmat yang perlu diperhatian. Yesus memakai perumpamaan, agar orang-orang Farisi menyadari bahwa TUHAN akan lebih bersedia mendengarkan doa-doa orang biasa lebih daripada kesediaan dari hakim yang lalim ini, jangan berpikir bahwa Tuhan tidak mendengarkan pengaduan dari orang-orang biasa ini. Sebenarnya, doa orang-orang Yahudi yang terserak di berbagai negeri selama bertahun-tahun telah didengarkan oleh Tuhan dan Ia telah menjawab. Tetapi siapa yang sangka bahwa kelahiran Yesus adalah jawaban atas ketekunan doa orang-orang rakyat biasa selama bertahun-tahun tersebut?
Kalimat terakhir dari perikop ini merupakan fokus dari seluruh perumpamaan, lebih kaya melimpah daripada literatur Yahudi Kebijaksanaan Ben Shiraz, yakni 「jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?」 Dalam pertanyaan retoris ini terdapat kata 「iman」 (πίστις pistis), adalah tentang percaya bahwa Yesus adalah Kristus dan Mesias yang sejati. Pada abad pertama, sangat sedikit orang Yahudi percaya pada identitas mulia Yesus — Mesias Juruselamat dunia, yang memindahkan orang-orang dari dosa ke dalam Kerajaan Allah. Iman ini tidak pernah mudah, tidak bisa sekedar dimengerti oleh akal sehat.
Renungkan:
Apakah mudah untuk memahami cara keselamatan TUHAN?
Bagi orang percaya masa kini, tidak ada keraguan bisa memahami kebenaran tentang karya keselamatan Tuhan di kayu salib. Tetapi dalam kehidupan orang-orang percaya, sekadar mempercayai anugerah dan kepemimpinan Allah, kita sekadar merasa takut karena ini adalah satu-satunya jalan keselamatan, namun dalam menghadapi anugerah dan janji yang sudah di depan kita, kita sering memberontak dan membelakangi Firman, bahkan membandel sampai kepala bocor!
Anugerah tidak pernah absen, hanya saja kita sering memakai berbagai alasan yang 「agamis」 untuk menolak dan mengesampingkannya secara halus (lih. perumpamaan perjamuan besar).
Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 13 – 18 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Februari 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Untuk Kalangan Kristen.