Kolose 1:3-5

「Senantiasa bersyukur bagi Gereja 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 1:3-5 [ITB])
3 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu,
4 karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, 5 oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil,

Surat Kolose 1:1-3 merupakan ucapan syukur Paulus kepada Tuhan dan pujian kepada gereja. Hari ini kita melihat dahulu bagian ucapan syukur. Kata kerja utama dalam ayat 3 (Kol. 1:3) adalah 「 kami bersyukur 」 (we give thanks). Karena teks sebelumnya menyebutkan Timotius (Kol. 1:1), maka 「 kami 」 seharusnya menunjuk kepada Paulus dan Timotius berdua. Di saat apakah mereka mengucapkan syukur kepada Bapa dari Tuhan Yesus? Ini dinyatakan dalam bahasa aslinya, yakni 「saat berdoa bagi kamu 」. Paulus dan Timotius berdoa selain untuk diri sendiri juga berdoa untuk orang lain, juga sering mengucapkan syukur kepada Allah Bapa bagi gereja milik Kristus. Doa yang mencakup ucapan syukur kepada Allah bagi gereja adalah bagian penting dari mata rantai. Mengenai hal apakah Paulus dan Timotius bersyukur kepada Allah? Paulus di ayat yang berikutnya menyebutkan tiga unsur 「 iman 」, 「 kasih 」 dan 「 pengharapan 」. Paulus sering bersyukur kepada Allah bagi gereja Kolose adalah karena mendengar tentang iman mereka 「di dalam Kristus」 dan kasih mereka 「terhadap semua orang kudus 」. Di dalam seluruh surat Kolose, kata 「iman」 dan 「kasih」 muncul lima kali. Apa maksud dari frasa 「iman di dalam Kristus」?  Ditinjau dari surat Kolose saja, kita dapat menyimpulkan bahwa frasa ini menunjuk 「 bertahan memegang erat Injil 」(Kol. 1:23), 「teguh dan berakar dalam ajaran Kristus」(Kol. 2:7),  juga 「keteguhan iman terhadap Kristus」(Kol. 2:5). Bagaimanakah Orang percaya menyatakan imannya kepada Kristus? Yakni dengan bertahan memegang Injil, berakar dalam ajaran Kristus, dan bertumbuh. Iman (faith) bukan sekedar mengandalkan perasaan secara subjektif saja, tetapi memiliki isi kepercayaan serta fondasi yang kuat dan nyata.

Secara relatif dibandingkan dengan iman, maka kasih adalah 「terhadap semua orang kudus 」. Tentu kita tahu bahwa kasih bukan hanya terhadap saudara-saudari seiman saja. Tuhan Yesus mengajarkan kita mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi, dan hukum yang kedua ialah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Mat. 22:37-40). Namun mengapa di sini hanya menyebutkan 「kasihmu terhadap semua orang kudus 」? Apakah mereka tidak memiliki kasih kepada Kristus dan Bapa? Di dalam pandangan Paulus, 「kasih terhadap semua orang kudus 」 sesungguhnya merupakan luapan manifestasi dari 「iman dalam Kristus」. Jika seseorang memiliki iman yang teguh mendalam tidak goyah terhadap Kristus, maka secara alami dapat mempertahankan ajaran Kristus sehingga merealisasikan kasih kepada sesama. Dengan kata lain, manifestasi nyata dari mengasihi Allah mencakup 「 iman di dalam Kristus Yesus 」 dan 「kasih terhadap semua orang kudus 」. Dari sudut pandang lain, iman yang tidak memiliki realisasi saling mengasihi, dan hati yang mengasihi tanpa memiliki iman, keduanya adalah hal yang tidak dapat dimengerti dan tidak bisa diterima. Surat Paulus dan surat Yakobus tidak berbeda pandangan terlalu besar.

Di ayat 5 (Kol. 1:5) Paulus lebih lanjut menunjukkan, gereja Kolose mempunyai iman dan kasih, semua adalah 「 oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga 」. 「 Pengharapan 」 sesungguhnya adalah tempat beradanya daya dorong yang menguatkan orang mempertahankan iman, merealisasikan saling mengasihi. Petrus juga memakai 「 pengharapan yang hidup 」 (a lively hope) dan 「 bagian yang tersimpan di sorga 」 (an inheritance reserved in heaven) (1 Pet. 1:3-5) untuk memberikan motivasi pengharapan orang-orang percaya yang mengalami aniaya dan penderitaan.

Pada zaman sekarang orang-orang percaya mengejar 「 iman yang menginjak di tanah 」 dan 「 teologi yang menginjak di tanah 」 (yang terkait kehidupan sehari-hari) adalah suatu hal yang baik dan diperlukan. Namun Alkitab mengingatkan kita, iman juga mempunyai sisi 「 jauh dari tanah 」, dapat dikatakan bahwa yang makin 「 mendarat 」 sebenarnya makin 「 jauh dari tanah 」. Apa yang Allah berikan kepada kita di dalam Kristus, bukan hanya misi di dunia ini saja, namun juga pengharapan yang ada di Sorga dan bagian yang disimpan. Terutama dalam hari-hari yang penuh penderitaan, orang Kristen makin perlu merenungkan bagian yang disimpan di Sorga, kekuatan mempertahankan iman di dalam pengharapan, merealisasikan saling mengasihi. Paulus menunjukkan bahwa pengharapan ini adalah Firman yang dahulu mereka dengarkan, yakni Injil. Injil lah yang membuat orang di dalam pengharapan mempertahankan iman, merealisasikan kasih.

Renungkan: Apakah kita sering mengingat Gereja dalam doa kita? Kita bersyukur kepada Tuhan atas aspek apa dari gereja? Perkembangannya, kekayaan, jumlah orang atau kekuasaannya? Apakah gereja melalui iman, kasih dan pengharapan menunjukkan identitas dirinya sebagai pengikut Kristus?