Lukas 19:11-27

「Hamba yang setia

Renungan ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Mandarin 「爾道自建」, tema Injil Lukas ditulis oleh 彭家鏗 yang dipublikasi pada bulan Juni 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院).

(Lukas 19:11-27 [ITB])
11 Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.
12 Maka Ia berkata: “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.
13 Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.
14 Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.
15 Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.
16 Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.
17 Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.
18 Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.
19 Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.
20 Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. 21 Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur.
22 Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. 23 Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.
24 Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.
25 Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.
26 Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. 27 Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Perumpamaan tentang uang (misal: mina, talenta, dinar) dan hamba bukanlah kekhususan yang hanya dimiliki Lukas, Injil Matius juga memiliki catatan yang serupa (Mat. 25:14-30). Matius mencatatnya sebagai bagian dari khotbah di bukit Zaitun (Mat. 24 – Mat. 25), Lukas mencatatnya sebagai satu bagian yang berdiri sendiri. Walau secara keseluruhan cara penempatan narasi berbeda, namun keduanya terkait dengan topik akhir zaman (lihat Luk. 19:11).

Matius menempatkan perumpamaan ini bersama-sama dengan empat perumpamaan lain yang mempunyai topik tentang akhir zaman (Mat. 24:42-25:46); Lukas menempatkan narasi tentang bangsawan yang pergi ke negeri yang jauh untuk menjadi raja sebagai latar belakang di awal dan di akhir perumpamaan, untuk menonjolkan kedatangan Tuhan yang kedua kali (Luk. 19:12-14, 27). Sementara isi dari perumpamaan dalam catatan Matius dan Lukas secara garis besar adalah sama, hanya ada satu tempat yang berbeda secara menonjol. Matius menuliskan bahwa para hamba mendapatkan uang talenta yang jumlahnya tidak sama disesuaikan kemampuan masing-masing (Mat. 25:15), Lukas menuliskan bahwa tiga hamba mendapatkan uang mina yang sama, saat sang tuan pulang setelah dinobatkan menjadi raja, ia mengadakan perhitungan dengan para hamba, walau terdapat dua hamba yang memberikan hasil keuntungan, namun sang tuan hanya memuji hamba yang menghasilkan sepuluh mina sebagai hamba yang baik (Luk. 19:17), dan memberikan anugerah kekuasaan atas sepuluh kota. Jika diperbandingkan, maka hamba yang menghasilkan lima mina tidak mendapatkan pujian (Luk. 19:19, bandingkan Mat. 25:16-17, 21, 23), walau tetap diijinkan menguasai lima kota.

Dari respon sang tuan dapat disimpulkan bahwa dengan menitipkan uang mina agar diinvestasikan oleh para hamba sebenarnya mempunyai tujuan untuk menguji kesetiaan mereka — yakni apakah mereka telah berusaha sekuat tenaga semaksimal mungkin menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sang tuan, untuk menentukan siapa yang cocok mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar (mengurus kota). Ini menunjukkan sebuah prinsip, bahwa pahala bagi pelayanan adalah mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih banyak, diberi misi yang lebih besar. Lukas menempatkan perumpamaan ini di bawah kerangka akhir zaman, untuk menonjolkan inti dari perumpamaan ini, bahwa orang percaya jika ingin mempersiapkan diri sendiri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali, maka seharusnya di dalam masa penantian ini berusaha segenap tenaga semaksimal mungkin menyelesaikan dengan baik tugas yang diberikan Tuhan.

Renungkan:

Lukas mencatat perumpamaan ini tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan uang mina dan investasi, juga tidak menjelaskan tanggung jawab yang diberikan Tuhan untuk diselesaikan itu menunjuk kepada hal apa. Sebaliknya, Matius menempatkan perumpamaan kambing dan domba setelah perumpamaan ini (Mat. 25:31-46), seperti ingin memberikan petunjuk kepada pembaca agar di dalam komunitas orang percaya harus saling bermurah hati, saling memperhatikan, dan saling melayani. Lukas mungkin tidak menunjuk kepada hal ini, namun berharga untuk direnungkan oleh orang percaya yang juga dalam penantian akan kedatangan Tuhan yang kedua kali.