「Prinsip dalam Berrelasi 」
Renungan ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Mandarin 「爾道自建」, tema Injil Lukas ditulis oleh 彭家鏗 yang dipublikasi pada bulan Juni 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院).
(Lukas 17:1-10 [ITB])
1 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. 2 Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.
3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
4 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”
5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!”
6 Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”
7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”
Lukas 17:1-10 dapat dibagi menjadi empat bagian (Luk. 17:1-2, 3-4, 5-6, 7-10), dua bagian yang pertama berkaitan dengan prinsip berrelasi di antara para murid, Tuhan Yesus mengingatkan mereka untuk memperhatikan orang percaya yang imannya lemah atau yang belum dewasa ( 「orang-orang yang lemah 」, Luk. 17:2), berusaha menjaga jangan menjadi batu sandungan bagi mereka (Luk. 17:1-2); dan sebaliknya jika ada orang yang bersalah kepada mereka, maka harus dengan hikmat menilai, menasehati dan mengampuni, serta harus senantiasa tiada henti melakukannya demikian (tiada henti mengampuni, Luk. 17:4). Para murid berpendapat bahwa mereka akan mampu melakukannya hanya jika ditambahkan iman mereka (Luk. 17:5), namun Tuhan Yesus mengingatkan bahwa iman yang kecilpun sudah cukup untuk memenuhi misi yang sulit, oleh karena itu iman yang mereka miliki itu sudah cukup untuk merealisasikan prinsip berrelasi ini (Luk. 17:6).
Di sini jawaban Tuhan Yesus terkait hal iman, juga tercatat di kitab Injil yang lain dengan konteks perikop sebelum dan sesudah yang berbeda (misal: Mat. 17:20), kebanyakan berkaitan dengan pengadaan muzizat. Namun iman yang dibicarakan di sini sepatutnya dimengerti sesuai konteks perikop sebelum dan sesudah Lukas 17:1-10 ini, terutama teks sebelumnya yang banyak berbicara tentang relasi antara Allah dengan orang berdosa, dan respon orang berdosa sepatutnya berdasarkan iman mengampuni serta mengasihi orang lain.
Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengingatkan para murid, Allah telah memberikan pengampunan serta kasih yang demikian lebar dan dalam kepada mereka, maka para murid harus memberikan respon dengan mengandalkan iman walau sekecil apapun, akan mampu merealisasikan misi untuk mengasihi dan mengampuni. Misi ini walaupun kelihatannya sulit, yang seperti dalam perumpamaan tersebut sang hamba pada saat yang sama harus membajak tanah, menggembalakan ternak, juga menjadi pengurus rumah (Luk. 17:7-8), tetapi mengabaikan apa yang ia lakukan itu begitu sulit, dan hanya memandang semua itu adalah bagian dari tugas dirinya yang harus dilakukan (Luk. 17:10), sedikitpun tidak ada sungut-sungut dan amarah, juga tidak ada sedikitpun oleh karenanya timbul rasa sombong. Orang percaya sepatutnya memiliki sikap hati yang demikian, memusatkan mata hati pada kasih pengampunan yang dari Tuhan, dengan iman merespon misi yang Ia berikan untuk saling mengasihi.
Renungkan:
Inti dari iman Kristen adalah kasih dari salib, orang percaya sebagai wakil Kristus di dunia, mempunyai tanggung jawab (juga pada saat yang sama punya kuasa kekuatan) merealisasikan kebenaran salib — yakni dengan kasih dan pengorbanan menjadi tanda yang hidup. Gaya hidup salib ini sangat bertolak belakang dengan gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri yang lama. Oleh karena itu perlu sering merenungkan kasih pengorbanan Kristus bagi kita, agar kasih ini dinyatakan dengan besar sepanjang hidup kita, agar kita membuat respon iman, membuat makna sesungguhnya dari kasih menjadi sesuatu yang nyata.