Tag Archives: Persembahan

Imamat 2:1-3

Kemenyan yang kudus

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 2:1-3 [ITB])
1 「Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN, hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya.
2 Lalu korban itu harus dibawanya kepada anak-anak Harun, imam-imam itu. Setelah diambil dari korban itu tepung segenggam dengan minyak beserta seluruh kemenyannya, maka imam haruslah membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai bagian ingat-ingatan korban itu, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
3 Korban sajian selebihnya adalah teruntuk bagi Harun dan anak-anaknya, yakni bagian maha kudus dari segala korban api-apian TUHAN.

Fungsi korban sajian hampir sama dengan korban bakaran, sama-sama adalah persembahan (Im. 2:1) terjemahan CUV Mandarin korban persembahan, sama-sama adalah jenis persembahan korban api-apian yang baunya menyenangkan (Im. 2:3, 10, 12), jadi sama-sama memiliki fungsi dan arti simbolis yang hampir sama. Namun, korban sajian memiliki dua makna simbolis yang unik:
(1) kemenyan (frankincense) (Im. 2:1, 2, 15, 16);
(2) bagian ingat-ingatan korban (memorial portion / memorial offering) (Im. 2:2, 9, 16).

Renungan hari ini akan fokus pada kemenyan, dan renungan besok akan fokus pada bagian ingat-ingatan korban.
Kemenyan (levŏnāh) adalah persembahan langka, memiliki berbagai fungsi, termasuk untuk membuat ukupan kudus yang dipakai di tempat kudus (Kel. 30:34), juga digunakan membuat minyak wangi (Kidung 3:6), umum dipakai untuk persembahan penghormatan (Yes. 60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN). Dan pemakaian di Imamat pasal 2 ini merupakan kombinasi dari fungsi-fungsi yang disebutkan di atas. Dalam persembahan korban sajian, kemenyan adalah persembahan penghormatan kepada TUHAN, Sang Raja besar, dan tepat karena ini adalah bagian maha kudus dari segala korban api-apian (Im. 2:3), sehingga orang dapat masuk ke ranah ilahi milik Allah (karena definisi kekudusan adalah wilayah ilahi). Oleh karena itu, kemenyan melambangkan semacam persembahan penghormatan kepada Raja besar. Umat Allah adalah seperti rakyat di bawah pemerintahan Raja besar, untuk mengungkapkan rasa hormat mereka kepada Raja besar, maka umat Allah melalui persembahan korban sajian menyatakan bahwa TUHAN adalah satu – satunya Raja, hanya Dia layak menerima segala persembahan kita. Dalam Perjanjian Baru, beberapa orang Majus datang ke Betlehem untuk melihat bayi Yesus, salah satu persembahan adalah kemenyan, oleh karena itu makna simbolis persembahan korban sajian di Perjanjian Lama juga muncul di Perjanjian Baru yakni persembahan penghormatan kepada Yesus, menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya Raja besar, kita hanya memberikan segala persembahkan penghormatan besar hanya kepada Dia saja yang satu-satunya.

Renungkan:
Apakah hidup kita telah menjadikan Tuhan sebagai Raja dan mendedikasikan hal-hal yang paling berharga kepada-Nya? Sering kali, kita mendedikasikan hal-hal yang kualitas lebih rendah kepada Tuhan, misalnya, kita akan mempersembahkan hidup usia senja kita kepada Tuhan daripada kehidupan masa muda kita. Seiring waktu, kita memakai yang terbaik untuk diri kita sendiri, tetapi kualitas yang lebih rendah untuk Tuhan. Mentalitas persembahan seperti itu bukanlah inti dari korban sajian. Ketika korban sajian mempersembahkan kemenyan yang berharga ini, kita mungkin bertanya apa hal itu pemborosan, sama seperti para murid berkata bahwa untuk apa Maria melakukan pemborosan dengan mempersembahkan minyak wangi yang paling mahal berharga. Ini karena ukuran persembahan kita sering dihitung dari segi efektivitas modal untuk melihat apa imbalannya, jika persembahan tidak sebanding dengan perolehannya, kita menganggap tidak ada manfaat ekonomi dan persembahan itu pemborosan.

Namun, persembahan korban sajian adalah pengabdian yang tidak mengikuti aturan permainan dunia, persembahan hanya untuk satu alasan saja: Dia adalah Raja besar kita, persembahan penghormatan adalah sepatutnya, persembahan ini tidak mencari imbalan dari Tuhan, tetapi semata-mata ekspresi kekaguman hormat kepada Raja agung. Apakah demikian dengan persembahan kita?


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 1-16 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Februari 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.