「Anak Sulung dan Hak Berkat」
(Kej. 27:1-4 [ITB])
1Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: 「Anakku.」 Sahut Esau: 「Ya, bapa.」
2Berkatalah Ishak: 「Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku. 3Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; 4olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati.」
Ishak berumur lanjut, matanya kabur tidak dapat melihat, maka menyuruh Esau anak laki-lakinya yang sulung datang, berkata kepadanya: 「Anakku.」 Esau menjawab: 「Saya di sini.」 Ishak berkata: 「Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu kapan aku mati. Sekarang, ambillah senjata berburumu, yaitu tabung panah dan busur, pergilah ke padang dan burulah bagiku, lalu sesuai yang aku gemari jadikan makanan yang lezat, bawa kepadaku untuk kumakan, agar sebelum aku mati memberkati engkau.」
Kitab Kejadian dua kali mencatat seorang ayah sebelum meninggal memberkati anak laki-lakinya, yakni Ishak memberkati Esau dan Yakub (Kej. 27-28), satu kali lagi adalah Yakub memberkati dua belas anak laki-lakinya (Kej. 49). Dua buah peristiwa memiliki banyak kemiripan, tidak hanya menunjukkan hati kasih dari seorang ayah, juga merupakan nubuat nabi, di antaranya khusus berkaitan dengan hak dan berkat milik anak sulung.
Kata kunci dalam kisah ini adalah 「anak sulung」 (bǝkôr) dan 「berkat」 (bǝrākâ), merupakan permainan kata (Wordplay) (menggunakan kata yang mirip), juga merupakan topik penting Kitab Kejadian. Sesuai tradisi daerah timur dekat zaman kuno dan teologi Kitab Kejadian, 「anak sulung」 mendapatkan 「berkat」, bukan saja memiliki materi kelimpahan (dobel bagian warisan), tetapi juga memiliki berkat yang bersifat rohani (silsilah anugerah keselamatan). Kemudian nats menggambarkan Esau memandang rendah hak anak sulung, dengan mudah menjual hak anak sulung, kehilangan berkat yang merupakan hak anak sulung, kemudian walaupun dengan sedih memohon juga tidak dapat mendapatkan kembali. Sebaliknya, Yakub memakai akal, menipu saudara membohongi ayah, mengejar hak berkat yang bersifat surgawi, akhirnya mendapatkan berkat milik anak sulung. Sebenarnya dibalik itu penyebab yang sesungguhnya, jauh sebelum mereka lahir Allah sudah menentukan (Kej. 25:23; Rom. 9:6-13).
Alkitab berulang kali berbicara tentang 「anak sulung」, yang tidak harus sesuai urutan kelahiran, tetapi peduli pemilihan dari Allah, termasuk Ishak, Yakub, Peres (Kej. 38:29), juga raja Daud (Maz. 89:27) dan raja Solomo. Mereka melambangkan Kristus, datang ke dunia menjelma menjadi manusia, menjadi 「anak sulung」 bagi semua orang percaya (Ibrani 1:6).
Di dalam teks secara khusus mencatat Ishak mengutamakan perasaan, di peristiwa pemberkatan anak ini, lima macam indera dipakai semua: indera penglihatan (ayat 1), indera pengecapan (ayat 4), indera peraba (ayat 21), indera pendengaran (ayat 22), indera penciuman (ayat 27), hampir mirip dengan Esau yang tamak nafsu mulut mengabaikan hak anak sulung yang mewakili berkat rohani. Tetapi ini tidak dapat menutupi kenyataan dari 「ketidaktahuan」 Ishak: ia tidak tahu kematiannya masih jauh, tidak tahu yang datang di depan mata memohon berkat adalah anak laki-laki yang mana, tidak tahu dirinya sendiri sengaja melawan kehendak Allah, justru disiasati oleh istrinya, dibohongi anak laki-laki. Pada akhirnya dirinya sendiri juga jatuh dalam peristiwa yang membuat kerohanian dan status dirinya tidak sepandan.
Renungkan: Ishak sebagai salah satu dari tiga nenek moyang Israel, kedudukannya tinggi terhormat, menikmati berkat yang paling banyak. Di usia tua memberkati anak namun menunjukkan kehidupan rohani yang tidak sesuai identitas dirinya, membuat orang merasa kecewa. Teladan pengajaran dari tindakan serta perkataan diri ayah dan ibu, pasti memiliki pengaruh yang besar terhadap anak. Kiranya kita sebagai orang tua (atau orang yang berusia lebih tua), tidak hanya diri sendiri menaati perintah Tuhan, juga membawa anak (atau orang yang berusia lebih muda) mematuhi perintah Tuhan.
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).